Presiden Rusia Vladimir Putin menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghchi di Moskow, Senin (23/5/2025), di tengah bayang-bayang ledakan perang regional di Timur Tengah.
Arragchi terbang dari Jenewa Swiss ke Rusia, setelah menolak tekanan troika Jerman, Prancis, Inggris, yang mendesak agar Iran menghentikan program nuklirnya.
Meski mungkin tidak akan menghasilkan banyak terobosan sesudah bombardemen Amerika Serikat ke Iran, pertemuan Putin-Arraghchi lebih banyak bersifat simbolik.
Pertemuan itu akan mengokohkan kemitraan Rusia-Iran, dan memberi pesan Teheran tidak sendirian menghadapi persekusi barat dan Israel.
Rusia, China, dan Pakistan kini mengambil inisiatif resolusi di Dewan Keamanan PBB, mengutuk serangan Amerika ke tiga instalasi proyek nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan udara Israel ke Iran terus berlanjut meski ada sinyal awal penurunan tensi operasi dari pihak Yerusalem Barat.
Pemboman Fordow, Natanz, dan Isfahan dianggap menjadi tujuan utama agresi Israel ke Iran, yang ternyata itu adalah kuda troya Washington.
Sebaliknya, serangan balasan Iran lewat penembakan rudal balistik dan drone ke Israel, Minggu 22 Juni 2025, menghasilkan kerusakan signifikan di Haifa dan Tel Aviv.
Kini, Iran tengah mempertimbangkan strategi menutup Selat Hormuz yang sangat vital, sebagai balasan atas gempuran Amerika ke negaranya.
Sementara menyerang aset-aset militer dan diplomatik Washington di Teluk menjadi opsi lain, meski juga sedang dipertimbangkan masak-masak konsekuensinya.
Lantas,, apa sebenarnya yang secara politik menjadi agenda lain agresi Israel ke Iran sejak 13 Juni 2005?
Israel dan Amerika rupanya menargetkan pergantian kepemimpinan Teheran. Mereka sampai pada kesimpulan, serangan militer tidak akan menghentikan program nuklir Iran.
Proyek nuklir Iran yang selalu dicurigai Israel dan Amerika bertujuan militer, hanya akan disudahi jika kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei diruntuhkan.
Sistem Republik Islam Iran harus dilenyapkan, diganti rezim baru yang bisa dibuat tunduk dan patuh pada keinginan Washington.
Tel Aviv mengira Republik Islam Iran akan runtuh dengan beberapa operasi serangan, pembunuhan yang ditargetkan, dan sabotase bom mobil di dalam Iran.
Tetapi alih-alih memicu pemberontakan, Israel justru mendapatkan pukulan telak yang bersejarah karena rakyat Iran bersatu mendukung pemerintah dan militer.
Operasi Singa Bangkit yang digelar Israel secara sistematis sejak 13 Juni 2025, dikampanyekan sebagai keberhasilan revolusi baru rakyat Iran.
Media arus utama barat melegitimasi agresi itu sebagai konsekuensi pencegahan karena Iran tinggal menghitung hari lagi untuk memproduksi bom nuklir.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyamakannya operasi mereka sama dengan pemboman reaktor Osirak di Irak tahun 1981.
Israel menginginkan serangan strategis yang diperlukan untuk mencegah pemusnahan dan ancaman eksistensial bagi bangsa dan negara Yahudi itu.
Lebih dari 200 jet tempur Israel dikirim sebagai serangan pembuka, dengan serangan penetrasi dalam dan perang siber yang dijalankan bersamaan.
Pertahanan udara dan instalasi radar Iran termasuk yang pertama diserang. Mossad dan pasukan sekutu menggunakan agen proksi untuk memicu sabotase internal.
Serangan pesawat nirawak dari dalam wilayah Iran diarahkan ke pertahanan udara Iran. Bom mobil diledakkan di kota-kota besar untuk menimbulkan kepanikan.
Rudal panggul dan drone pembunuh digunakan sebagian untuk melenyapkan ilmuwan-ilmuwan dan jenderal-jenderal Iran di tempat tinggal masing-masing.
Israel dan Amerika di belakang layar operasi ini meyakini momentumnya sangat tepat, dengan asumsi Iran sedang goyah oleh sanksi dan isolasi.
Masyarakatnya sedang bergejolak atas situasi buruk kehidupan mereka, dan kepemimpinan Teheran juga tengah retak.
Namun semua hanyalah khayalan. Apa yang muncul sejak serangan Israel pada 13 Juni bukanlah keruntuhan rezim, tapi kehadiran negara yang beradaptasi di bawah tekanan.
Bertentangan dengan narasi barat, serangan yang menewaskan Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Jenderal Hussein Salami tidak merusak postur strategis Iran.
Dalam hitungan jam, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan kembali kendali Artesh (militer konvensional) atas pertahanan nasional.
Ia mengangkat komandan baru, dan mengaktifkan protokol serangan yang telah direncanakan sebelumnya.
Ini menandakan pengalihan inisiatif dari para veteran IRGC yang berhati-hati, banyak yang masih trauma perang 1980–1988 dengan Irak, ke generasi yang lebih agresif.
Generasi kepemimpinan ini berani menyerang Israel secara langsung.

Serangan balasan Iran pada tanggal 13, 14, dan 15 Juni – bagian Operasi True Promise III– menunjukkan kapabilitas itu.
Iran menyerang secara kejam Tel Aviv, Haifa, dan tiga pangkalan militer Israel, satu di antaranya Nevatim Air Base, pangkalan skuadron jet tempru F-35 Adir.
Pengamat daring mengagumi seberapa cepat militer Iran beralih ke posisi siap perang meskipun ada ekskusi massal para perwira tinggi berkedudukan strategis.
Sulit dibayangkan ada negara lain mampu, ketika ada begitu banyak komandan senior yang tewas, lalu Iran ternyata mampu secara cepat menyerang balik.
Israel memang berada di posisi lebih menguntungkan lewat supremasi udara mereka di Timur Tengah.
Di bawah perlindungan Amerika, jet-jet tempur Israel melintasi langit Lebanon, Suriah, Yordania, Irak, bahkan Arab Saudi sebelum mencapai Iran.
Laporan awal mengklaim dominasi Israel atas wilayah udara Iran, sebagian besar berdasarkan rekaman jet Israel yang menghindari respons dan menyerang target umpan.
Namun setelah “diam” selama 12 jam, sistem pertahanan udara (AD) Iran kembali terlibat dengan kekuatan penuh.
Penundaan tersebut ditafsirkan sebagai efek perang siber atau strategi “rope-a-dope” yang disengaja.
Berpura-pura lemah, menarik musuh, membuatnya terlalu percaya diri, melakukan serangan balik.
Media Israel menggembar-gemborkan “superioritas udara,” tetapi sebagian besar serangan yang dikonfirmasi menargetkan umpan atau target tiruan.
Seperti yang dijelaskan oleh analis militer Mike Mihajlovic, lebih dari tiga perempat video yang beredar sebenarnya mengenai umpan.
Ilusi dominasi yang disiarkan Tel Aviv mulai retak. Perang melalui teror karena tidak mampu mempertahankan serangan udara berskala besar,
Israel mengubah taktik. Serangan rudal jarak jauh mereka dari wilayah udara Irak berkurang. Sebaliknya, Mossad dan aset internalnya melancarkan serangan pesawat nirawak FPV, bom mobil, dan serangan rudal antitank.
Lima bom mobil meledak di Teheran pada tanggal 15 Juni saja. Lokasi sipil – rumah sakit, asrama, dan bangunan tempat tinggal – terkena serangan. Ini bukanlah operasi militer.
Ini adalah tindakan teror dan sabotase. Namun, media arus utama barat menggemakan narasi Tel Aviv.
Jaringan media Inggris BBC dan yang lainnya menggambarkan insiden ini sebagai “serangan”, yang menyiratkan presisi udara, bukan bom mobil.
Pengaburan bahasa yang disengaja ini merendahkan martabat orang Iran sekaligus mensterilkan agresi Israel.
Namun, hal ini telah menggembleng orang Iran dan menyatukan mereka.
Seperti invasi mendiang Presiden Irak Saddam Hussein ke Iran tahun 1980, Tel Aviv salah mengartikan kontradiksi internal Iran sebagai tanda-tanda keruntuhan.
Namun sejak 13 Juni dan seterusnya, warga Iran dari seluruh spektrum politik – termasuk para pembangkang lama – telah bersatu di belakang negara tersebut.
“Tokoh oposisi mana yang telah berbicara dan menulis sebanyak saya menentang rezim ini? Tetapi bagaimana saya bisa bergabung dengan musuh dalam situasi ini?” tanya analis politik Iran, Sadegh Zibakalam.
“Terlepas dari semua kritik saya terhadap pemerintah, saya sepenuhnya mendukung panglima tertinggi Angkatan Pertahanan Iran dalam mempertahankan tanah air,” kata mantan tahanan politik Iran, Ali Gholizadeh.
Bahkan suara-suara reformis, yang pernah kritis terhadap kebijakan nuklir Iran, sekarang malah menuntut sebuah bom.
Jurnalis dan editor Ali Nazary mengatakan, “Iran harus memperoleh bom nuklir sesegera mungkin. Melakukan uji coba nuklir adalah pencegah terbesar.”
Di media sosial Iran, gambar warga sipil yang tewas dalam serangan Israel telah menjadi viral.
Hingga 15 Juni, 224 warga Iran – 90 persen warga sipil – dilaporkan tewas, dengan lebih dari 1.200 orang terluka.
Ini adalah narasi penting dalam historis kultural dan psikologi politik Iran. Kematian bagi mereka harus diglorifikasi sebagai kemartiran atau pengorbanan dan sekaligus kekuatan.
Berbeda dengan Israel, yang harus menutupi segala kerusakan dan kematian akibat serangan Iran, karena itu berarti kelemahan.
Klaim Israel yang menghancurkan 120 peluncur rudal dan 200 unit sistem penangkis serangan uara Iran, harus menghadapi realitas sebaliknya.
Penembakan rudal secara masif oleh Iran setelah gempuran besar Israel, memperlihatkan klaim Tel Aviv itu hanya ilusi.
Bahkan terjangan rudal-rudal hipersonik Iran gagal dilumpuhkan system Kubah Besi atau Iron Dome, sistem rudal Arrow, maupun THAAD milik Amerika Serikat.
Rudal Iran semakin menyerang benar-benar dengan sedikit intersepsi. Mitos pertahanan Israel yang mahakuasa mulai terbongkar.
Bahkan Iran dianggap menggunakan taktik menguras rudal pencegat Israel, dengan stok berbagai jenis rudal pamungkas yang mereka miliki yang belum ditembakkan.
Efek serangan Iran ke Israel telah membuat guncangan besar bagi penduduk negara itu. Mereka ketakutan.
Kehancuran fisik yang ditimbulkan menyajikan pemandangan yang selama ini hanya bisa disaksikan terjadi di Jalur Gaza atau Dahiiyeh di Beirut.
Perang psikologis, yang dilancarkan Iran bersamaan operasi pembalasan mereka, mendapatkan momentum. Iran memenangi pertempuran di sektor ini.
Di sisi lain, persekusi barat ini membuat Teheran mempertimbangkan keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Konsekuensinya akan sangat serius, karena berarti Iran akan keluar dari rezim multilateralisme, dan Teheran tidak akan terpantau lagi.
“Operasi Rising Lion” yang dimaksudkan untuk memenggal kepala Republik Islam Iran, menghancurkan program nuklirnya, dan menghancurkan moralnya, berbaik arah.
Kepemimpinan Iran telah mengeras. Rakyatnya menantang. Musuh-musuhnya berebut untuk mengendalikan cerita.
Ini bukan sekadar perang rudal. Ini adalah perang narasi, kedaulatan, dan memori sejarah. Poros Perlawanan memahami hal ini, tetapi Tel Aviv, tampaknya, tidak.
Begitu juga Presiden Donald Trump di Washington, gagal mengubah situasi.
Ia menceburkan dirinya ke dalam got kemunafikan, merusak janji, klaim, dan sumpahnya sendiri hadir sebagai juru damai dunia.
Watak politik Amerika Serikat yang hegemonik, membuat mereka mengabaikan kedaulatan negara lain, meremehkan tatanan dan hukum internasional.
Pada akhirnya, kepemimpinan global model ini akan membahayakan siapapun dan negara berdaulat manapun.







