TALAMUS, MADINAH –Di pusat peradaban yang gemerlap itu, aku berdiri kokoh sendiri pada hamparan gurun tandus. Tak sadar jika telah melewati berjuta mil kilometer perjalanan, diatas awan semesta yang tak berujung untuk tiba di dua Kota itu
Pandanganku tertuju, menatap orang-orang asing berlalu lalang penuh haru dengan raut wajah teduh penuh gairah. Mereka para tamu-tamu agung yang sama denganku
Aku pun takjub, seakan tak percaya. Tapi ini nyata, wilayah suci yang dirindukan itu telah didepang mata. Kota impian dan pengharapan berjuta manusia, bahkan milyaran penduduk dunia pun berharap hadir, walau hanya sekedar menapakkan jejak kakinya
Imajinasiku tak terbendung, lamunan panjang nan jauh tentang kelahiran, sejarah dan petualangan Sang pemegang risalah, mandataris Ilahi, kekasih Allah yang dirindukan
Aku sadar telah terasing, disuatu ruang terindah belahan bumi katulistiwa. Bahasa yang tak kumengerti terdengar dari mereka. Namun, jiwaku bahagia tersesat di kampung para Mujahid
Deru langkah kaki terus terdengar riuh ditelinga. Namun, sukma ini sunyi, terpaku dan tetap membisu, seeperti terjebak dalam kedamaian tak kasatmata.
Keterasingan menyelimuti setiap napasku, rindu dan haru terus memuncah seiring denting waktu yang terus berjalan
Walau begitu, pikiranku tak fokus pada siapa dan bagaimana mereka disekitarku. Biarlah kusibuk merajuk, memuja dan jatuh cinta pada kota kelahiran sang penerang kehidupan
Ku ingin menuangkan peristiwan ini dalam sebuah cerita sederhana, tentang mimpi yang nyata bersama orang tercinta diantara kota Makkah dan Madinah.(Abdillah)

Madinah, 09/08/2024

