Talamus.id, – Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan rencana mengaktifkan sekitar 4,5 juta anggota milisi untuk mengamankan wilayah nasional. Langkah ini merespons peningkatan tawaran imbalan penangkapan dari pemerintah AS dan operasi antinarkoba di Karibia. Maduro menyampaikan pengumuman tersebut melalui siaran televisi pemerintah pada Selasa (19/8/2025).
Menurut data resmi, milisi Venezuela yang dibentuk era Hugo Chavez memiliki anggota sekitar 5 juta personel, meski analis memperkirakan jumlah sebenarnya lebih kecil. Dengan populasi negara sekitar 30 juta jiwa, mobilisasi ini menandai eskalasi ketegangan terbaru antara Caracas dan Washington.
Maduro mengecam ancaman yang ia sebut “berlebihan dan tidak masuk akal” dari AS. Pernyataan ini muncul setelah pemerintahan AS menggandakan tawaran hadiah penangkapan Maduro menjadi $50 juta (Rp812,4 miliar) terkait tuduhan kepemimpinan kartel narkoba “Cartel de los Soles”.
Pemerintah AS yang tidak mengakui legitimasi pemilu Maduro turut memberlakukan sanksi terhadap pemerintahannya bulan lalu. Laporan juga menyebutkan pengerahan kapal perang AS di Karibia selatan sebagai bagian operasi antinarkoba.
Merespons hal ini, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello menyatakan negaranya juga memperkuat kehadiran di perairan Karibia yang diklaim sebagai wilayah kedaulatan Venezuela. Maduro mengapresiasi dukungan berbagai pihak dan mendorong pembentukan unit milisi petani dan buruh di semua sektor.
“Senapan dan rudal untuk pasukan petani! Untuk mempertahankan wilayah, kedaulatan, dan perdamaian Venezuela,” tegas Maduro dalam pidatonya, menandai tekad pemerintahannya menghadapi tekanan internasional.

