Talamus.id, – Andi Ibrahim, seorang dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, kini terjerat dalam kasus peredaran uang palsu yang mengejutkan. Meskipun memiliki latar belakang akademis yang mengesankan dan menjabat sebagai Kepala Perpustakaan di universitas tersebut, Andi terpaksa menghadapi konsekuensi hukum setelah ditangkap oleh pihak kepolisian.
Menurut informasi yang diperoleh, Andi Ibrahim ditangkap bersama dengan sejumlah tersangka lainnya dalam operasi yang dilakukan oleh Polres Gowa. Dalam pengakuannya, Andi menyatakan bahwa tindakannya mencetak uang palsu adalah akibat dari khilaf. Ia menginginkan cara cepat untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar, yang mendorongnya untuk terlibat dalam kegiatan ilegal ini.
Kapolres Gowa, AKBP Reonald Simanjuntak, menjelaskan bahwa Andi dan rekan-rekannya hanya mencetak uang pecahan Rp100 ribu, dengan biaya produksi mencapai Rp56 ribu per lembar. Andi menganggap bahwa mencetak pecahan yang lebih kecil, seperti Rp50 ribu, tidak menguntungkan karena modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
Lebih lanjut, uang palsu yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk transaksi sehari-hari, tetapi juga disalahgunakan untuk mendukung ambisi politik Andi, yang berkeinginan untuk mencalonkan diri sebagai bupati di Barru. Kasus ini menunjukkan betapa seriusnya masalah peredaran uang palsu di Indonesia, terutama ketika melibatkan individu dengan latar belakang pendidikan tinggi.
Dalam penggerebekan yang dilakukan, polisi berhasil menyita berbagai barang bukti, termasuk mesin cetak uang palsu dan sejumlah uang palsu yang siap diedarkan. Pengungkapan ini menandai salah satu operasi besar dalam memerangi kejahatan pencetakan uang palsu yang melibatkan jaringan lintas profesi.
Andi Ibrahim, yang sebelumnya dikenal sebagai sosok terhormat di lingkungan akademis, kini harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat akan bahaya dan dampak dari kejahatan pencetakan uang palsu, serta pentingnya integritas dalam dunia pendidikan.





