Talamus.id, – Ratusan orang yang terlibat dalam aksi tersebut menuntut pemerintah meninjau kembali larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO). Ketua APKASINDO Gulat Manurung menyebut jika petani sawit Indonesia sedang sekarat. “Kami dalam kondisi sekarat. Pabrik tidak ada lagi yang mau membeli TBS kami,” kata Gulat.
Kebijakan larangan ekspor CPO dan turunanya yang berlaku sejak tanggal 28 April dan sampai sekarang belum dicabut, dinilai sudah menghancurkan ekonomi petani sebagai komponen paling hulu dari rantai pasok minyak kelapa sawit.
Kebijakan ini ibaratnya siapa yang berulah tetapi siapa yang harus menanggung. Petani sama sekali tidak tahu kenapa minyak goreng pernah langka , waktu itu petani juga sama dengan masyarakat Indonesia lainnya juga mengalami kesulitan mendapatkan minyak goreng. Tetapi larangan ekspor diberlakukan yang pertama kali terdampak adalah petani.
Ketua APKASINDO Gulat Manurung menyebut jika petani sawit Indonesia sedang sekarat. “Kami dalam kondisi sekarat. Pabrik tidak ada lagi yang mau membeli TBS kami,” kata Gulat.
“Rp 600 sampai Rp 1.200 per kilo,” kata Gulat menjelaskan anjloknya harga TBS saat ini. Menurutnya harga TBS seharusnya sudah menyentuh Rp 4.500.
Kemarin, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menerima perwakilan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang sempat menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat.
Moeldoko berjanji akan menyampaikan aspirasi petani sawit Indonesia kepada Jokowi, terutama yang berkaitan dengan kebijakan larangan ekspor sawit, dan bahan baku minyak goreng.



