TALAMUS. ID – Semua mata tertuju ketika hari ini, Negara teluk dan pangkalan militer AS. Di bom bardir Iran dalam waktu 24 jam, Roket dan dronnya menembus ribuan KM bahkan melewati lautan Mediterania demi janji setia
Ini bukan sekedar konflik timur Tengah, tapi perang Asimetris, pertempuran yang tak seimbang dan misi perjuangan mustahil Iran, namun keberanian nya akan tetap menjadi manuskrip dalam sejarah panjang peperangan dunia. Jelas belum ada prajurit modern militer yang pernah melakukan hal tersebut. Perang kehormatan atau yang Iran sebut ‘balas dendam’ telah membuka jendela dunia untuk kembali mengenang memori entitas peradaban besar yang pernah berkuasa di bumi
Imperium yang diabadikan dalam Al Qur’an, Ras yang diceritakan langsung dari lisan Sang pembawa risalah, diawal Nubuwwah. Iran telah mengembalikan memori panjang yang terlupakan tentang Persia. Legenda Militer yang terkenal dengan pasukan elite “Pasukan Abadi” (10.000 prajurit) dan taktik kombinasi pemanah serta infanteri.
Kini Persia modern atau Iran yang pernah berjaya, kembali membuktikan kebenaran sejarah dan nukilan ayat Surah Ar-Rum dalam Al Qur’an. Kemampuan menggetarkan Negeri Paman Sam yang dikenal adidaya (superpower) dengan kombinasi kekuatan militer, ekonomi ($29,2 triliun PDB pada 2024) membuat dunia takjub. Perang yang tak berimbang, tapi mentalitas yang kuat membuat teknologi, dan berfasilitas serba canggih serta bangunan pangkalan militer seharga milyaran dollar itu goyah
Persia kembali menunjukkan eksistensi nya sebagai negeri yang pernah berkuasa. Militernya telah berhasil membangun tekat untuk menerbangkan balistik menembus sistem pertahanan canggih, gempuran yang melewati batas logika manusia. Bagi sebagian orang ini Mission Impossible atau perang bunuh diri. Tapi tidak bagi pengikut Khomeini, ini adalah perang langit.
Prinsip dari Negeri kelahiran, Salman Al Farisi itu, Pertikai dengan Israel dan Amerika bukan sekedar perang biasa tapi lebih pada prinsip kehormatan, tanah dan cinta untuk Agama dan Bangsa. Sebuah perpaduan kekuatan politik dan spritual yang melewati batas dimensi fisik manusia
Kekuatan ini lahir dari semangat membara atas keyakinan sakral yang telah tertanam Berabad-abad lamanya. Negara yang disebu-sebut dengan mayoritas penduduk Syi’ah itu seakan menampar jutaan muslim dunia yang memilih berdamai dan duduk semeja menggadaikan negara dan prinsip-prinsip keyakinan demi melanjutkan hidup.
Konsep pemimpin Iran yang tak mempersoalkan resiko kematian menjadi candu unik yang berbeda dengan mayoritas pemimpin dunia. Menurut keyakinan mereka kematian bukan akhir tapi kesyahidan yang menjadi babak awal dari kekuatan untuk melawan. Prinsip yang membawa kita kembali kemasa lampau mengenang jejak prajurit fanatisme muslim yang menaklukan Spanyol. Kisah Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang memimpin penyeberangan ke Spanyol tahun 711 M. Berbekal sekitar 7.000 pasukan dari Afrika Utara, prajuritnya menumbangkan Raja Visigoth, Roderic, dalam Perang Guadalete.
“Kehidupan atau kematiannya tidaklah penting, yang terpenting adalah keberlangsungan Islam dan Republik Islam” Ucap Ali Khomeini diberbagai rekaman video yang beredar sebelum gugur bersama keluarga dalam serangan roket Amerika (AS) . Minggu, 28 Februari 2026 di Bulan Ramadhan 1447 Hijrah
Pertanyaannya, Apakah pemimpin suatu negara seperti Iran, tidak memiliki pengamatan atau pengamanan ketat? Tentu tidak, ini adalah prinsip Ali Khomeini untuk tak sambunyi di banker, ia memilih beraktivitas biasa seperti masyarakatnya dan tak lari dari kematian. Suatu komitmen berserah diri warisan para mujahid terdahulu di masan kejayaan Islam. Ajaran yang pernah terbukti menggetarkan dunia, menaklukkan benua dan sangat menakutkan. Tapi dari sini inti kekuatan terbesar pasukan muslim, sehingga menjadi ancaman paling menakutkan dimasanya. kekuatan yang lahir dari kualitas individu bukan pada kuantitas kelompok.
Ayatullah Ali Khomeini lahir di Masyhad, Iran 1939, Ia melanjutkan kepemimpinan Khomeini yang dikenal sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran 1979, Iran menjadi republik Islam teokratis dengan menekankan pendirian pemerintahan Islam yang adil, anti-Barat (khususnya AS) dan anti-Komunis (“bukan Timur maupun Barat”), serta seruan untuk mengekspor revolusi Islam ke dunia.
Pendekatan Spiritual dan politisnya telah menghipnotis penduduk Iran, Ali Khomeini menawarkan kesembuhan dari luka dan kesakitan panjang para penduduk Iran, Melepaskan trauma dari kejamnya kekuasaan Resim diktator sebelumnya. Yah, sebutlah Raja Mohammad Reza Pahlavi (Shah) yang berkuasa dari 1941 hingga 1979. Rezim yang mengusung modernisasi ala Barat yang sekuler, di mana perempuan berpakaian bebas, pendidikan tinggi meningkat, dan gaya hidup kebarat-baratan umum ditemui di kota-kota Teheran
Sebelumnya, Reza Pahlavi memimpin pemerintahan Monarki yang didukung oleh kekuatan militer dan sekutu Barat termasuk AS dan Israel. Modernisasi dan Sekularisasi pun disahkan dengan melakukan “Revolusi Putih”, reformasi untuk memodernisasi negara, meningkatkan hak perempuan, dan mengurangi pengaruh ulama tradisional.
Meskipun terlihat modern tapi era ini Gaya ditandai dengan ketimpangan ekonomi dan represifitas politik terhadap oposisi. Kemiskinan dan ketidakadilan merajalela, Para Ulama yang berfatwa ditangkap bersama oposisi yang menolak kebijakan. Dari sini awal revolusi Khomeini
Kehadiran Khomeini dengan pandangan revolusi dinilai sebagai kebangkitan spiritual oleh rakyat Iran. Narasi yang dibangun menjadi atmosfir tersendiri menembus alam bawa sadar warga Taheran. Ia memulai dengan menyentuh hati dan logika keilmuan orang-orang yang tertindas.
Dari revolusi itu, Al Khomeini pun mengalami pengasingan. Waktu berlalu tepat pada 1 Februari 1979, Ia kembali dari pengasingan, ketika ditanya perasaannya, Ali menjawab “Hichi” (tidak ada perasaan apa-apa), menunjukkan pandangan bahwa tindakannya didasarkan pada kehendak Tuhan, bukan emosi pribadi. Sebuah perjalanan panjang yang berawal dari serangkai cerita dan harapan dibalut cinta
Dari coretan sederhana ini, penulis bukan sekedar ingin memuji dan menganggap ini sebagai representasi perjuangan muslim dunia. Buka juga tentang perbedaan aqidah yang terus diperdebatkan kaum intelektual dan cendikiawan, tetapi mencoba mengajak kita membuka rasa empati dan logika politik global, namun tetap skeptis menyaring informasi dari media-media mainstream yang trus mendistraksi dan memecah ummat saat ini.
Penulis pun tidak ingin masuk dalam pembanding pemahaman Syi’ah atau Sunni yang begitu sensitif. Narasi yang dibangun lebih sebagai pengingat pribadi tentang kekuatan besar yang lahir bukan dari emosional sesaat tapi latihan panjang. Prinsip keyakinan spritual menjadi pondasi utama dalam memimpin sehingga kepergian satu pemimpin bukanlah akhir dari perjuangan tapi fase awal menuju kemenangan
Pesan dari perlawanan Iran adalah alarm untuk Negara-negara dunia yang masih sibuk dan menghabiskan waktu berbenah secara internal, ribuk dengan warganya sendiri, mulai dari demontrasi tanpa henti, kejahatan kriminal dan korupsi yang menggurita, bahkan sampai pada masalah intervensi asing atas suatu negara yang melahirkan penghianatan pimpinan atas Rakyatnya.
Negara Iran justru memilih jalan berbeda, bangsa itu sudah mampu menjaga kehormatan,kedaulatan dan kelestarian keyakinannya warganya. Bisa kita bayangkan jika saat ini peristiwa perang ini menimpa negara muslim lainnya, apakah mereka sudah siap, dan seperti inikah perlawanannya? Wallahu a’lam
Mungkin Ayatollah Ali Khomeini akan dikenang sebagai tokoh sejarah dibalik pertikaian dua kekuatan besar dunia dan menjadi mujahada para pemimpin bangsa. Kepergiannya diperbincangkan, tentang manusia yang tidak lagi mudah diguncang oleh dua senjata paling tua dalam sejarah kekuasaan, yaitu rasa takut akan kekurangan dan takut akan kehilangan nyawa.
Ali Khomeini telah mampu meyakinkan diri dan masyarakanya tentang tak lari dari kematian demi harga dari sebuah kemerdekaan, ia tak tau apa itu ancaman. Kepergiannya akan dikenang panjang dalam peradaban, namanya akan ditulis rapi dalam tinta emas sejarah Dunia, tentunya sebagai seorang patriotisme bangsa, buka pecundang yang mati dikursi empuk karena pesakitan. Sosok pemberani ini telah berhasil meraih tujuan dan makna hidup, sebagai seorang pemimpin bukan pemimpi!
Konflik yang ekstrim ini telah menjadi Pelajaran besar, membuat milyaran kepala tertunduk tanpa kata, sementara mereka yang bersuara hanya menambah kegaduhan tanpa solusi. Waktunya kaum muslim dunia bermujahadah, Bangsa ini telah mengajarkan simbol perlawanan atas dasar keyakinan bukan kepentingan pribadi, serta sebuah perjuangan yang butuh luka dan air mata.
Diakhir coretan, penulis hanya ingin menukilkan satu pesan sebagai pengingat dari Ali Bin Abi Thalib, tentang nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, atau rasa yang lahir dari empati tanpa harus menghardik
“Mereka yang bukan saudaramu dalam seiman adalah saudaramu dalam kemanusian”
Keyakinan boleh berbeda tapi nalar kemanusiaan harus lebih diutamakan. Ini adalah perang Asimetris, biarkan Iran, Israel dan AS menuntaskan tanpa harus mendapatkan kritikan ego dari sudut pandang yang berbeda. Persiapkan saja diri kita, keluarga dan masyarakat untuk berenang dalam lautan konflik akhir zaman..
Abu Hudzaifah
Takalar, 07 Maret 2026


