TALAMUS. ID – Semua mata tertuju ketika hari ini,15 Negara dan 27 pangkalan militer AS. diporak-porandakan Iran dalam waktu 24 jam, Roket dan dronnya menembus ribuan KM bahkan melewati lautan Mediterania demi janji setia
Ini adalah misi perjuangan mustahil, namun tetap akan menjadi manuskrip dalam sejarah panjang peperangan dunia. Jelas belum ada prajurit militer yang pernah melakukan hal tersebut di era kekinian. Perang kehormatan atau yang Iran sebut ‘balas dendam’ telah membuka jendela dunia untuk kembali mengenang memori entitas peradaban besar yang pernah berkuasa di bumi
Imperium yang diabadikan dalam Al Qur’an, Ras yang diceritakan langsung dari mulut Sang pembawa risalah diawal Nubuwwah. Iran telah mengembalikan memori panjang yang terlupakan tentang Persia. Legenda Militer yang terkenal dengan pasukan elite “Pasukan Abadi” (10.000 prajurit) dan taktik kombinasi pemanah serta infanteri.
Kini Persia modern atau Iran yang pernah berjaya, kembali membuktikan kebenaran sejarah dan nukilan ayat Surah Ar-Rum dalam Al Qur’an. Kemampuan menggetarkan Negeri Paman Sam yang dikenal adidaya (superpower) dengan kombinasi kekuatan militer, ekonomi ($29,2 triliun PDB pada 2024), teknologi, dan berfasilitas serba canggih serta bangunan pangkalan militer seharga milyaran dollar itu takluk
Persia kembali menunjukkan eksistensi nya sebagai negeri yang pernah berkuasa. Militernya telah berhasil membangun tekat untuk menerbangkan balistik menembus sistem pertahanan canggih, gempuran yang melewati batas logika manusia. Bagi sebagian orang Ini Mission Impossible
atau perang bunuh diri. Tapi tidak bagi pengikut Khomeini, ini adalah perang langit.
Bagi Negeri kelahiran, Salman Al Farisi itu Pertikai dengan Israel dan Amerika bukan sekedar perang biasa tapi lebih pada prinsip kehormatan, tanah dan cinta untuk Agama dan Bangsa. Sebuah kekuatan spritual yang melewati batas dimensi fisik manusia
Kekuatan itu lahir dari semangat membara atas keyakinan sakral yang telah tertanam Berabad-abad lamanya. Negara yang disebu-sebut dengan mayoritas penduduk Syi’ah itu seakan menampar jutaan muslim dunia yang memilih berdamai dan duduk semeja menggadaikan prinsip-prinsip keyakinan dan negara demi melanjutkan hidup.
Konsep pemimpin Iran yang tak mempersoalkan resiko kematian menjadi candu yang berbeda dengan mayoritas pemimpin dunia. Menurut mereka kematian adalah kesyahidan yang menjadi babak awal dari kekuatan untuk melawan. Prinsip yang membawa kita kemasa lampau dimana jejak prajurit fanatisme muslim menaklukan Spanyol. Kisah Thariq bin Ziyad, Panglima Muslim yang memimpin penyeberangan ke Spanyol tahun 711 M. Berbekal sekitar 7.000 pasukan dari Afrika Utara, prajuritnya menumbangkan Raja Visigoth, Roderic, dalam Perang Guadalete.
“Kehidupan atau kematiannya tidaklah penting, yang terpenting adalah keberlangsungan Islam dan Republik Islam” Ucap Ali Khomeini diberbagai rekaman video yang beredar sebelum gugur bersama keluarga dalam serangan roket Amerika (AS) . Minggu, 28 Februari 2026 di Bulan Ramadhan 1447 Hijrah
Pertanyaannya, Apakah pemimpin suatu negara seperti Iran tidak memiliki pengamatan atau pengamanan ketat? Tentu tidak ini adalah prinsip Ali Khomeini sebagaimana warisan dari para mujahid terdahulu di masan kejayaan Islam. Ajaran yang pernah terbukti menggetarkan dunia, menaklukkan benua dan sangat menakutkan. Tapi dari sini kekuatan terbesar pasukan-pasukan muslim dahulu hingga mereka menjadi ancaman paling menakutkan dimasanya. kekuatan yang lahir dari kualitas individu bukan pada kuantitas kelompok.
Ayatullah Ali Khomeini lahir di Masyhad, Iran 1939, Ia dikenal sebagai pemimpin Revolusi Islam Iran 1979, Ali mengubah Iran menjadi republik Islam teokratis dengan menekankan pendirian pemerintahan Islam yang adil, anti-Barat (khususnya AS) dan anti-Komunis (“bukan Timur maupun Barat”), serta seruan untuk mengekspor revolusi Islam ke dunia.
Pendekatan Spiritual dan politisnya telah menghipnotis penduduk Iran, Ali Khomeini menawarkan kesembuhan dari luka dan kesakitan panjang para penduduk Iran, Melepaskan trauma dari kejamnya kekuasaan Resim diktator sebelumnya. Yah, sebutlah Raja Mohammad Reza Pahlavi (Shah) yang berkuasa dari 1941 hingga 1979. Rezim yang mengusung modernisasi ala Barat yang sekuler, di mana perempuan berpakaian bebas, pendidikan tinggi meningkat, dan gaya hidup kebarat-baratan umum ditemui di kota-kota Teheran
Sebelumnya, Reza Pahlavi memimpin pemerintahan Monarki yang didukung oleh kekuatan militer dan sekutu Barat termasuk AS dan Israel. Modernisasi dan Sekularisasi pun disahkan dengan melakukan “Revolusi Putih”, reformasi untuk memodernisasi negara, meningkatkan hak perempuan, dan mengurangi pengaruh ulama tradisional.
Meskipun terlihat modern tapi era ini Gaya ditandai dengan ketimpangan ekonomi dan represifitas politik terhadap oposisi. Kemiskinan dan ketidakadilan merajalela, Para Ulama yang berfatwa ditangkap bersama oposisi yang menolak kebijakan. Dari sini awal revolusi Khomeini
Kehadiran Khomeini dengan pandangan revolusi dinilai sebagai kebangkitan spiritual oleh rakyat Iran. Narasi yang dibangun menjadi atmosfir tersendiri menembus alam bawa sadar warga Taheran. Ia memulai dengan menyentuh hati dan logika keilmuan orang-orang yang tertindas.
Dari revolusi itu, Al Khomeini pun mengalami pengasingan. Waktu berlalu tepat pada 1 Februari 1979, Ia kembali dari pengasingan, ketika ditanya perasaannya, Ali menjawab “Hichi” (tidak ada perasaan apa-apa), menunjukkan pandangan bahwa tindakannya didasarkan pada kehendak Tuhan, bukan emosi pribadi. Sebuah perjalanan panjang yang berawal dari serangkai cerita dan harapan dibalut cinta
Dari coretan sederhana ini, penulis bukan sekedar ingin memuji dan menganggap ini sebagai representasi perjuangan muslim dunia. Buka juga tentang perbedaan aqidah yang terus diperdebatkan kaum intelektual dan cendikiawan.
Penulis mencoba mengajak kita membuka rasa empati dan logika politik global tapi tetap skeptis menyaring informasi dari media-media meanstim yang trus mendistraksi kaum Muslim saat ini. Pun bukan sebagai pembanding pemahaman Syi’ah atau Sunni. Narasi yang dibangun lebih sebagai pengingat eksistensi pribadi tentang kekuatan besar dibalik keyakinan spritual musim yang pernah ada. Prinsip kepergian pemimpin bukanlah akhir dari perjuangan tapi fase awal menuju kemenangan
Pesan dari perlawanan Iran adalah alarm untuk Negara-negara dunia yang masih sibuk berbenah secara internal, ribuk dengan warganya sendiri, mulai dari demontrasi tanpa henti, kejahatan kriminal dan korupsi yang menggurita. Belum lagi masalah intervensi asing atas kekayaan suatu negara yang melahirkan penghianatan pimpinan atas Rakyatnya. Negara Iran justru memilih jalan berbeda, bangsa itu sudah mampu menjaga kehormatan,kedaulatan dan kelestarian keyakinannya warganya. Bisa kita bayangkan jika saat ini peristiwa perang ini menimpa negara muslim lainnya, apakah mereka sudah siap, dan seperti inikah perlawanannya? Wallahu a’lam
Mungkin Ayatollah Ali Khomeini akan dikenang sebagai tokoh sejarah dibalik pertikaian dua kekuatan besar dunia dan menjadi mujahada para pemimpin bangsa. Ia telah mampu meyakinkan diri dan masyarakanya tentang harga dari sebuah kemerdekaan dengan tidak tunduk oleh ancaman. Kepergiannya akan dikenang menyerah dalam peradaban namanya akan ditulis rapi dalam tinta emas sejarah Dunia, tentunya sebagai seorang patriotisme bangsa. Sosok pemberani ini telah berhasil meraih makna hidup sebagai pemimpin bukan pemimpi!
Konflik yang ekstrim ini telah menjadi Pelajaran besar, membuat milyaran kepala tertunduk tanpa kata, sementara mereka yang bersuara hanya menambah kegaduhan tanpa solusi. Waktunya kaum muslim dunia bermujahadah, Bangsa ini telah mengajarkan simbol perlawanan atas dasar keyakinan bukan kepentingan pribadi, serta sebuah perjuangan yang butuh luka dan air mata.
Diakhir coretan, penulis hanya ingin menukilkan satu pesan sebagai pengingat dari Ali Bin Abi Thalib, tentang nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, atau rasa yang lahir dari empati tanpa harus menghardik
“Mereka yang bukan saudaramu dalam seiman adalah saudaramu dalam kemanusian”
Abu Hudzaifah
Takalar, 07 Maret 2026


