TALAMUS, MAKASSAR– Program MBG atau Makan Bergizi Gratis untuk anak telah berjalan hampir setahun, sebuah kebijakan nasional yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto mulai tahun 2025
Program prioritas ini menjadi hal yang sangat penting dan vital sebagai bentuk kehadiran dan tanggung jawab negara dalam menyongsong generasi Emas Indonesia di tahun 2045.
Namun tak kalah pentingnya, guru perlu memahami secara organik karakter anak generasi emas yang diharapkan itu. Mungkin saat ini Ia lagi duduk dikelas, bermain dan sementara menikmati kebebasan berpikirnya tanpa ada gangguan atau pun intervensi. Siapa mereka?
Mereka adalah Anak yang saat ini sedang bertanya:”Kenapa kita harus belajar ini?” Bukan karena malas, namun Ia sedang mencoba menguji relevansi atau hubungan dengan nilai realitasnya. Sayangnya sering kali mendapat jawaban “Pokoknya.”
Anak yang bilang “Saya nggak paham”.
Bagi kelas yang memuja nilai sabagai standar kognitif, kalimat ini terdengar seperti dosa. Padahal inilah awal belajar yang sesungguhnya.
Anak yang berani beda jawaban dari buku. Dan kadang langsung mendapat penghakiman dan vonis bersalah. Padahal, la hanya sendang berpikir. Tapi sering kali di luruskan agar ia kembali patuh.
Anak yang tidak rangking tapi terus mencoba. Tak khawatir dengan kegagalan karena la sedang belajar ketahanan. Sayangnya, kita lebih sibuk merayakan yang cepat, bukan yang gigih.
Anak yang bertanya “Kalau begini, boleh nggak?” la sedang bernegosiasi dengan kesepakatan. Tapi sering kali kita anggap pembangkang, bukan pemikir
Anak yang memberi masukan cara guru menjelaskan. Yang biasanya dinilai tidak kurang ajar. Padahal, ia sedang memberi umpan balik jujur dan menurut kita itu hal yang asing.
Anak yang belajar dari sumber lain, tapi dimarahi di kelas. la sudah menemukan caranya sendiri. Jangan tersinggung karena tak lagi jadi satu- satunya sumber pengetahuan.
Anak yang bertanya “Ini gunanya buat hidup saya apa?” la ingin keluar dari proses belajar yang terlalu lama hidup dari hafalan Dan kita sering kali mengabaikannya.
Anak yang berani bertanya “Kenapa?” Meski tahu risikonya. Jangan cap cerewet. Jangan cap sok pintar. Karena dari merekalah perubahan selalu dimulai.
Anak yang bertanya”Boleh pakai cara saya sendiri?” la tidak menolak tugas.
la hanya ingin menempuh jalan yang berbeda. Lalu sering kali kita menjawab “Ikuti contoh.” “Jangan aneh-aneh.” Maka di situlah kreativitas sering dikubur hidup-hidup.
1 SDIT dan SMPIT Ash Shaff Takalar Jalan Poros provinsi, kelurahan Sabintang, Kabupaten Takalar.








