TALAMUS.ID – Hudzaifah Abdillah, lahir tanggal 1 Desember 2008. anak lelaki pertama, buah hati belahan jiwa dan cinta pertama buatku. Kelahiranmu ditandai dengan berbagai kebahagiaan, kehadiranmu adalah moment bahagia sekaligus kondisi terberat dalam ceritaku.
Ini adalah Kisah Perdana seorang ibu, yang merasakan beratnya berjuang untuk sebuah kelahiran. Kecemasan dan rasa sakit adalah konsekwensi yang harus ikhlas diterima demi melihat janin itu lahir dengan selamat, perasaan tak menentu, campur-aduk menanti Qadarulllah .
Namun, aku percaya jika hidup harus diperjuangkan, ucapku lirih. Kelahiran adalah perjuangan jihad seorang ibu diatas kendali Sang maha pemilik kehidupan, kupasrahkan segalanya karena ku yakin semua kehendakmu adalah kebaikan.
Seperti ungkapan fenomenal yang di Nukilkan Sang Khalifah, Umar Bin Khattab ” Dan aku percaya semua yang terlewatkan bukan takdirku, dan takdirku tidak akan terlewatkan”
Setelah sembilan bulan lamanya berjuang tertatih-tatih menjagamu dalam rahim. Akhirnya, kelahiran itu pun tiba, bayi mungil itu lahir dengan selamat. letih dan pesakitan pun tak lagi terasa, melihat wajah mungil sejukmu, suara tangis awalmu pun terus terus terngiang diqalbu menjadi energi tersendiri untuk kembali lebih kuat. Aku pun seakan melupakan situasi itu, peristiwa kengerian, pejuangan antara hidup mati yang akan dilewati setiap Ibu.
Tahun, bulan dan hari berganti, tak terasa tubuh mungil itu sekarang telah tumbuh menjadi pemuda tangguh. Anak kecil yang hoby mencari gerseng itu telah jadi remaja, lelaki kecil yang suka usil itu telah bermetamorfosis. karakter pemalu, tenang dan penyayang mulai nampak.
Satu Dasawarsa pun telah terlewati, usianya kini telah genap 13 tahun, umur baliq untuk anak sebayanya. Usia Ibnu Abbas, sahabat sekaligus sepupu Baginda Rasulullah Muhammad, yang mulai memantapkan hatinya menuntut Ilmu diusia itu.
Sebagai anak lelaki pertama, kami pun berkomitmen untuk menitipkannya kepesantren. Alhamdulillah, setelah melewati diskusi panjang dengan Abinya, dengan berharap ridho hanya kepada Azza Wajjallah. Hudzaifah kecil akhirnya dimasukkan disebuah pesantren dipusat kota Makassar, Sulsel. Keinginan kami pun disambutnya dengan suka cita, tak terlihat sedikit pun wajah penolakan atau gelisa saat kami harus mengantarkannya pergi menuju kepondok itu.
Markas Imam Malik, itu nama pondok yang kami percayakan untuk mendidiknya. Saat itu pesantren besutan Ustaz Harman Tajang begitu dikenal. Banyak orang tua seperti kami yang juga mempercayakan anaknya menjadi santri disana. Bahkan, tak tanggung-tanggung santrinya banyak dari luar daerah dan provinsi Sulsel.
Roda waktu terus berjalan, kenangan dan cerita berlalu begitu cepat, kami mulai merasakan hari-hari merindu. Tak terasa Kurang lebih tiga bulan engkau telah berjuang menahan kebebasanmu, hal yang tidak umum untuk anak seusianya. Bulan Mei 2021. Hari itu untuk pertama kalinya kami mendapatkan jadwal penjengukan setelah penantian panjang selama awal kepergianmu.
Tahun itu pun wabah pademi covid 19 yang menghantam dunia masih terus menjadi momok menakutkan, semua orang dibuat tak menentu dengan status ketidak pastian. Wabah yang mengancam itu terus menggila dan meneror siapa saja. Namun, bagi kami kondisi pandemi ini tak akan menyurutkan langkah dan mengurangi semangat rindu yang terus bergelora.
Kami pun bertemu disalah satu bangunan mesjid diarea podok itu, tepat ba’dha Dzuhur dipelataran mesjid. Aku tak kuat menahan airmata kupeluk erat tubuhmu dan kucium pipimu seakan tak ingin lagi berpisah. Temu kangen yang sangat singkat namun bergitu berharga
Ada damai yang sederhana lewat temu itu,
meski mungkin hati ini belum begitu puas. Setidaknya, hasrat yang lama terpendam telah meluap seiring tawa lepas tersambut air mata haru biru melihat tubuh kecilmu kini telah mulai terlihat Remaja. Sesekali kupandangi dirimu dari jauh saat kendaraan kami mulai melaju meninggalkanmu.
Kucoba menyimpan aroma tubuh yang melekat dibaju yang engkau titip untuk kami bawa pulang. Sungguh tak ada kalimat dan diksi yang bisa mewakilkan perasaanku hari itu. Penantian telah terjawab. Demi dzat yang maha pemberi rahmat. sungguh hari ini adalah anugrah yang, kebahagian yang telah lama menjadi bunga-bunga tidur seorang Ibu.
Ini adalah Moment paling bahagia dari mereka yang telah letih merinduh, telah lama menanggu lara. Tak terhitung lagi seberapa banyak bulir airmata yang jatuh dalam sujud. Ibu yang memasrahkan segalanya, berharap ini sebuah keniscayaan yang akan mengantarkan kelak kesurgaNya.
“Ya Allah ! yang membolak balikkan hati, trima kasih atas tarbiah hidup yang engkau ajarkan, atas khazanah kehidupan yang tersuguh, serta fanorama alam kebesaranmu sebagai tanda. kupercaya semua Qada dan Qadarmu adalah yang terbaik.” Ucapku lirih
Kuharap pertemuanku hari ini menjadi penguat dan penyemangat untuk lebih mentauhidkan SyariatMu, lebih membumikan agamaMu dan semakin yakin akan kebesaran dan kebenaran dari risalahmu. Sungguh Islam adalah agama pembawa keberkahan dan hikmah
“Radhitu billahi rabba, wa bil islami dinan wabi Muhamma din nabiyya wa Rasulla. Rabbissyrahli shadri wa yasilli amrii wahlul Uqdatam milisani yafqahul qauli.”
Teruntuk sang pemuda Solehku, Hudzaifah Abdillah Daeng Tola, sehat dan kuat selalu, lewati hari hari indah bersama para Thalabul Ilmu di pondok yang engkau sebut penjara suci, semoga tetap dilapangkan hati dan dimudahkan untuk menyelesaikan JihadNya.
Kuat dan berbesar hatilah sebagai mana para Nabi, ulama dan orang-orang sholeh terdahulu yang telah berhasil melewati derasnya hujatan dan cacian, tak jumawa dengan ilmu dan pujian. Cakaran dan goresan sejarah menjadi bukti kegigihannya berpegang pada Risalah. Kesabaran dan Cinta telah mengubah Lelah menjadi Lillah. (Hujan, 07/03/2021)







