TALAMUS, GOWA – Inilah Ibuku! sosok perempuan sederhana yang lahir di sudut kampung kecil, tanah Makassar, Sulawesi Selatan, leluhur para pemberani, tempat lahir Sultan Hasanuddin Raja Yang Berjuluk Ayam Jantang dari Gowa.
Ibuku dibesarkan dalam rumah mungil di kabupaten Gowa, sudut Desa Yang ramah dan asri bernama Tanrara. Ia tumbuh diawal kemerdekaan dan dibesarkan dengan keterbatasan informasi, tak seperti Ibu-ibu masa kini. Waktu itu Tak ada gadget apalagi cerita flexing.
Berbicara Ilmu pengetahuan, tentunya sangat beda dari era kita saat ini, apalagi jika Yang dibahas kemampuan menghitungnya, jauh dari baik. Setidaknya begitulah kami menilainya. Tak ada yang kami andalkan jika terkait masalah hitung-hitungan.
Mungkin Ibu tak memilih bersekolah karena perempuan waktu itu masih dalam pengawasan ketat, era pemerintahan Sukarno atau orde lama. Intinya perempuan masih pingitan dan serba terbatas, cukup jadi anak rumahan sambil menanti lamaran. karena tempat tertingginya kelak hanya seragam Ibu rumahtangga.
Di Zaman Yang tak akrab dengan teknologi itu, ada keunggulan yg menarik yg dimiliki ibu yakni adab dan empati kepada sesama, mirip teori pendidikan islam: Adab dulu baru Ilmu. hal yg sudah tak lazim ditemukan dari mereka yg saat ini mengaku bersekolah.
Klau tdk salah, ibuku tak tamat disekolah rakyat (SR) , atau disebut sekolah dasar (SD) saat ini. Namun Ia begitu teladan dalam hal merawat Dan mendidik anaknya, dan itu sangat kami rasakan dampaknya. Talentanya teruji, buktinya ia mampu membesarkan dan merawat Lima orang anaknya dengan baik.
Saya adalah anak bungsu dari lima bersaudara, tentunya ada kebiasan dan perlakuaan yg beda. Bapak (Terra) telah kembali pulang sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, sekitar tahun 1996 lalu. Sebagai anak lelaki yang terakhir yg sangat dekat dengan Ibu, serta dikelilingi kakak2 karakterku lebih manja tapi mandiri. Sepeninggal Tetta kami berusaha tak merepotkan Ibu.
Ibu selalu menjadikanku simbol generasi terbaiknya dalam keluarga. kebanggaan sudah pasti, namanya juga anak bungsu, hal itu sering terucap dari mulut Ibu setiap dia berbincang dgn ibu-ibu sebayanya atau sekedar bertemu sanak-saudaranya. Saya selalu berusaha menahan setiap kepedihan dan Luka Ibu dengan berusaha melanjutkan sekolah, bermodalkan nilai sosial dan empati dari Orang- orang sekitar kucoba untuk mandiri dalam segala hal.
Dari kisah Ibu Berbagai pelajaran kehidupan diajarkan tanpa hitungan statistik atau rumus pasti ala matematika. Misalnya aku meminta sesuatu dengan nilai, ia selalu memberiku tak sesuai nilai permintaan. Kasih-Nya melebihi hitungan yg kami minta, Bukan karena tak paham, melainkan hatinya tak mengenal konsep nilai ketika menyangkut anaknya.
Disini aku mengerti, Cinta seorang ibu, jauh dari realitas yang kita bayangkan. Ia kadang memberikan sesuatu bukan karena lebih, melainkan karena takut kurang. Ibuku takut anaknya lapar, takut sakit, takut tak kebahagia, dan takut kasih sayangnya terabaikan
Cinta ibu jauh dari Algoritma, ia tak menghitung pengorbanannya, tak mengukur lelah, dan tidak menimbang untung rugi. Yang ia tahu hanya memberi, lagi dan lagi, seolah kebahagiaan anak adalah satu-satunya rumus hidupnya.
Barangkali ibuku buruk bagi pandangan dunia matematika dan ilmu Sains, tetapi ia sangat ahli merawat cinta. Ajaran keihlasan sering menjadi cerita pengantar tidurnya. katanya jika kita ihlas, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi pahala. Bahasa cinta yang diajarkan tak mampu diterjemahkan oleh logika.
Dan saat ia telah pergi krn badannya ygtak kuat menanggung sakit, pesan cinta dan kisah langitnya pun bermakna. Kami baru mengerti, bahwa Bukan ibuku yang tak paham hitungan dunia, melainkan aku yang baru belajar memahami arti memberi tanpa batas.
Ia pergi dengan segudang informasi tentang lara dan peluhnya kehidupan, tentang perjuangan dan tanggung jawab yg harus terus dijaga. Ibuku tak mengajarku Menghitung, ia mengajarkan kami rasa untuk memilih tak kecewa, tak lari atas takdir dunia.
Silaturahim dan belaskasih adalah keteladanan Yang dititipkan. Baginya tak ada kata mundur dalam berbuat kebaikan. Kini, kami hanya bisa mengenang dan bercerita tentang kasih Yang abadi, tentang mencintai dengan hati, yg tak tunduk oleh musim, setia pada makna dan tak ambisi dgn rupa. Hati mengajarkan untuk tak silau oleh cahaya dan warna yg dapat berubah
setiap waktunya
Aku bangga menjadi bagian dari sejarah kehidupanmu, jasamu akan terus kami kenang, kisahmu akan melegenda dari mulut anak-anakmu, jejakmu akan menjadi prasasti dalam jiwa kami. Semoga semua langkah dan lelahmu mengarungi semesta menjadi Amal kebaikan disisiNya.
Makassar, 15 Februari 2026

