Talamus.id- Ahli Digital Forensik Rismon Sianipar mempertanyakan pernyataan Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Ova Emilia mengenai keabsahan ijazah Presiden Joko Widodo. Komentar ini disampaikan Rismon sebelum menjalani pemeriksaan di Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (25/8/2025).
Ia menyayangkan sikap Rektor UGM yang dianggap terlalu gegabah menyatakan keaslian dokumen tanpa penjelasan rinci. “Mengapa tak dijelaskan soal lembar pengesahan penguji yang tidak ada di skripsi Jokowi? Padahal mantan Rektor UGM 2002-2007 Prof. Sofian Effendi sudah menyimpulkan skripsi itu tak pernah diuji dan berisi plagiarisme dari pidato Dr. Sunardi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rismon mempertanyakan integritas akademik UGM era tersebut. “Jika terbukti ada ratusan bahkan ribuan skripsi tanpa lembar penguji, ini menunjukkan problem serius. Padahal universitas swasta yang belum terkenal pun sangat ketat dalam kelengkapan administrasi,” tegasnya.
Ahli forensik ini juga menantang UGM untuk mempublikasikan transkrip nilai Jokowi untuk mata kuliah dasar seperti Statistik, Fisika, dan Matematika. Menurut standar akademik, mata kuliah dengan nilai D seharusnya menghalangi kelulusan mahasiswa di kampus bergengsi seperti UGM.
Sebagai informasi, Universitas Gadjah Mada yang berdiri sejak 19 Desember 1949 di Yogyakarta merupakan salah satu perguruan tinggi negeri tertua dan paling prestisius di Indonesia. “Proses akademik yang dilalui Jokowi justru menguatkan analisis kami dan menunjukkan kelemahan argumentasi Prof. Ova Emilia dan pihak lain,” tambah Rismon.
Ia mendesak transparansi penuh dari pihak universitas. “UGM punya tanggung jawab sejarah terkait ijazah yang digunakan Jokowi sebagai calon presiden 2014 dan 2019. Jangan dijawab hanya melalui forum tertutup seperti podcast internal,” tutupnya tegas.

