Semasa hidupnya, Ia dikenal baik dan aktif berkomunikasi dengan siapapun, perangaian yang ramah serta ceria memudahkannya berinteraksi dan diterima setiap kalangan. Ia paling suka memuji dan menyemangati siapapun, saya termasuk adik yang sering mendapatkan pujiannya. “Dek kamu kebanggaan keluarga yang harus kuat dan sehat” katanya setiap kali memuji. Dia Selalu meluangkan waktu untukku, meski hanya sekedar menyapa lewat telphone. Hal yang paling sulit kulupakan adalah kehadirannya disaat saat yang tepat.
Sosokmu tangguh, riang dan rela berkorban begitu terasa dalam kenangan keluarga. Sikap pemberani yang rela menerjang badai serta menyembunyikan kesedihan demi melihat senyum orang-orang yang kau sayangi.
Terakhir kali kami berkomunikasi lewat Whats App, ia menuliskan satu pesan agar kami selalu merawat dan memperhatikan Ibunda. “Sering-sering lihat mama, saya percaya kita dek bisa jaga mama” Tulisnya. Bukan sekali saja pesan itu engkau kirim, tapi berulang kali. Mungkin ini adalah pesan perpisahan sekaligus amanah diakhir hidupmu.
Usai disholatkan di sebuah masjid kecil tak jauh dari rumahmu, rombongan yang mengantar jenazah pun berangkat kesebuah lahan pekuburan di tengah hutan, tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhirmu. Disana terlihat hamparan tanah yang khusus disiapkan untuk area perkuburan. Lubang tempat kuburmu pun tanpak mengangah seakan sudah menanti kedatanganmu. Kuberanikan dan kukuatkan diri untuk terlibat mengebumikan jasadmu, kuharap ini sebagai abdi terakhirku seorang adik.
Kuangkat tubuh itu keliang lahat, kurebahkan tumbuhmu perlahan dalam liang gelap itu, tempat yang akan menjadi peristirahatan terakhirmu. Dalam hatiku begumah, saudaraku tuntas sudah ceritamu, hilang sudah lelahmu. Kutitip doa semoga segala perjuangan dan pengabdian selama hidupmu menjadi bentuk peribadatan.
Saudaraku! Tak ada ucapan perpisahan yang paling indah kecuali doa. Usai sudah perjumpaan kita, bab demi bab hidupmu telah berlalu ditutup sampul kematian. Maafkan segala khilaf kami selama berinteraksi denganmu. Insya Allah segala bentuk pengabdianmu tak akan lekan dimakan waktu.
Berat kaki ini melangkah membawa serta rindu dan harapan yang terkubur di tanah asing. Masih tak percaya, tapi inilah takdir seorang perantau pergi dan hilang ditanah yang jauh.
Kutinggalkan kota kendari dengan Ikhlas, kuintip sejenak kota kecil itu diatas pesawat, tanah yang telah menyatu dengan jasadmu. Selamat jalan saudaraku, Salma Dg Lebong nama itu akan selalu kami kenang, istirahatlah dengan damai Insya Allah tempat terbaik menantimu.
Kendari, Jum’at 04 Oktober 2024







