Perjalanan dari bandara terasa sangat melelahkan dan singkat, kami langsung menuju Kecamatan Puuwatu rumah kediaman Almarhumah, daerah yang tak jau dari ibu kota kendari. Tepat pukul 10 Wita kami tiba disana, kuliat orang-orang telah berkerumun di pekarangan rumah itu. Bendera putih yang berkibar disudut jalan menambah sakral dan rasa pedih. Dirumah sederhana itu tanpak lelaki setengah baya berdiri menyambutku dengan linangan air mata. Ia memelukku erat sambil berguma ” Tidak Adami Daengmu”.
Dia adalah suami dari saudaraku yang telah terbujur kaku itu, lelaki yang membersamainya selama puluhan tahun dan telah memberikan tiga anak sebagai buah cinta. Lelaki ini pun yang telah menjadi alasan Ia terasing di perantauannya .
Didepan Mayat yang terbujur itu tanpak foto sosoknya tersenyum seakan menyambut kedatanganku. Sesaat, aku larut dalam nostalgia kenangan bersamanya, rasa haru pun semakin memuncah membuat hati terasa sakit, perih dan tak berdaya. Dunia serasa berhenti sejenak, seakan ada yang hilang dari separuh hidup. Kembali memori tentangnya terbayang, saat bersama melewati hari-hari di waktu kecil hingga tumbuh dewasa. Diantara kami bersaudara, dia yang begitu dekat jarak kelahirannya dan sangat akrab denganku.
Ini pengalaman pertamaku kerumahnya, tempat yang sering diceritakan dan dibanggakannya. Tempat menyejarah menurutnya, disini Ia menghabiskan sisa harinya bergumul penuh riang bersama tentangga dan keluarga kecilnya. Teringat ceritanya, tentang sepeda listrik yang sering digunakan untuk menggait reski, juga ayam bangkok peliharaan suaminya dan kisah tetangga yang sering dibahasnya. Kesemuanya itu masih bisa kulihat seperti dalam ceritanya, sepeda listrik dan ayam bangkok masih nampak disekitar pekarangan rumah itu







