Talamus.id, – Menargetkan lebih dari setengah abad hidupnya, Subardi telah menghabiskan waktu sebagai koster atau pelayan gereja. Baginya, ini adalah cara mudah untuk berkontribusi dan berbuat baik, meskipun ia adalah seorang Muslim.
Setelah beribadah subuh, Subardi mempercepat diri berangkat ke kerja. Bardi, sebagai aparat gereja, harus tiba lebih awal untuk mempersiapkan segala kebutuhan ibadah di GPIB Kharisma, Jakarta Selatan.
Termasuk sloki dan stroberi. Saya sudah hafal berapa banyak sloki dan strawberry yang dibutuhkan,” ucap lelaki yang biasa disapa Bardi, saat ditemui DW Indonesia pertengahan Desember.
GPIB Kharisma.
Dukungan keluarga
Sebelum menjadi seorang koster, Bardi bekerja sebagai pekerja bangunan yang membantu membangun gedung serba guna GPIB Kharisma. Saat itu, dan ia ditawari oleh organisator gereja masing-masing untuk menjadi Koster (kustos) di GPIB Kharisma.
“Saya belum bisa menjawab, Pak. Saya adalah seorang Muslim. Saya harus meminta izin pada keluargaku terlebih dahulu,” jawab Bardi ketika ditawari bekerja sebagai koster di gereja.
Ia memerlukan waktu tiga hari untuk menerima pekerjaan tersebut. Keputusannya ini berdasarkan atas respons positif yang didapatkan dari keluarganya yang mendukung Bardi untuk bekerja sebagai koster.
Bayangkan langkah kecil untuk mendapatkan berita terbaru dengan sambutannya! Berlangganan newsletter Wednesday Bite secara gratis dan tambahkan pengetahuanmu sepanjang minggu, sehingga topik diskusi akan menjadi makin menarik!
Keluarga sepakat jika masih ingin melanjutkan pekerjaan di tempat itu. Ia menjelaskan: “Tapi kamu harus bisa membedaikan kalau kamu dan ibadahmu merupakan seorang Muslim. Jangan sampai kamu meninggalkan ibadahmu, bahkan saat kamu bekerja di tempat-tempat non-agama.”
Suasana harmonis dengan kavaler gereja
Suasana harmonis dan saling menghargai antara saya dengan rekan-rekan kongregasi
1. Doa bersama
2. Mendukung satu sama lain
3. Saling menghargai keunikan satu sama lain
Setelah memastikan semua telah siap untuk ibadah, Bardi menuju pintu masuk gereja untuk menyambut jemaat yang datang.
Dia juga tidak pernah lupa menunjukkan senyumnya serta menyapa hampir semua jemaat yang ia kenal dari sebelumnya. Menurut Bardi, intensitas komunikasi seperti ini membuat atmosfer kekeluargaan di gereja makin meningkat.
Seorang pendeta menggambarkan sambutan suara pengerah gereja: “Sebelum aku menemuni surga, wama saya yang masuk surga terlebih dahulu karena saya telah melayani semua kebutuhan yang dikhendaki-Nya,” kata rektor sambil menceritakan salah satu kisahnya bersama jemaat.
Hubungan baik antara Bardi dan jemaat gereja juga terlihat pada saat moment besar Lebaran dan Natal.
Saya bersyukur, orang dari keyakinan yang berbeda, tapi masih memperhatikan saya. Ini menunjukkan bahwa kita menghargai kebersamaan dan harmoni, bukan karena ketidakseimbangan.
Toleransi dan keterbukaan gereja
Pada awalnya, gereja cenderung melibatkan jemaatnya untuk menjadi pelabur.
“Karena perubahan situasi, zaman, dan kondisi yang ada sekarang ini, kami juga telah melihat kesempatan untuk (membuka kesempatan bagi non-Kristen),” kata Ketua Majelis Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Kharisma, Pdt. Betty Kailola.
Dia menyatakan, perbedaan keyakinan tidak memengaruhi pekerjaannya sebagai koster GPIB Kharisma.
“Pegawai-peguang itu memang memiliki hari libur yang sama, yaitu Senin, tapi khusus untuk Pak Bardi, kita memberikan libur pada hari Jumat agar dia dapat melepaskan waktu untuk melaksanakan shalat dan menjalankan kewajibannya agama,” ujar Pdt. Betty.
Remaja Pdt. Betty mengungkapkan kepada Media DW bahwa memberi kesempatan kepada Bardi untuk bekerja sebagai koster adalah salah satu cara memupuk toleransi. Hubungan dan kerja sama yang baik dapat terbangun meski memiliki latar belakang yang berbeda.
“Perbedaan itu sebenarnya merupakan sesuatu yang menarik, karena perbedaan itu bisa membuat kita berjalan bersama, saling menambah dan melengkapi satu sama lain,” kata Pdt. Betty.
Sedangkan untuk Bardi, koster bukan hanya pekerjaan untuk menerima gaji. Menjadi koster berarti juga berkhidmat kepada manusia lainnya.
,” kata Subardi.

