TALAMUS – Ayatollah Mujtab Khamenei resmi menjabat pimpinan tertinggi Iran setelah ditunjuk oleh majelis Ahli. Mujtab adalah Putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang paling terluka atas peristiwa memilukan pada, 28 Februari 2026.
Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior telah memilih Mojtaba, seorang ulama berusia 56 tahun, sebagai penerus mendiang ayahnya. Hal ini menandakan bahwa peperangan akan terus berlanjut.
Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan dalam sebuah video pada Minggu (8/3/2026) bahwa seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah “dibenci oleh musuh”.
Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya,” ucap Alekasir dalam pernyataan yang disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Mojtaba merupakan pilihan yang “tidak dapat diterima” baginya.
Usai resmi menjabat, Ayatollah Mujtab Khamenei pun menyampaikan pidato pertamanya yang membara dihadapan majelis dan disiarkan resmi platform media sosial di Iran.
Luka dan kesedihan atas kehilangan Orang Tua, Istri dan Anak-anaknya yang kesemuanya gugur syahid akibat dibom bardir oleh Trump dan Netanyahu tak membuatnya ciut
Suaranya tidak meledak-ledak, namun
bergetar dengan resonansi yang
menembus batas negara dan perbedaan
mazhab.
“Wahai umat Muhammad yang tersebar
di seluruh penjuru bumi..” suaranya
bergema melalui pengeras suara,
memecah kesunyian yang mencekam
“Hari ini, kita tidak lagi berbicara
tentang batas wilayah yang digariskan
oleh pena penjajah. Kita tidak lagi
berbicara tentang perbedaan yang
selama ini menjauhkan kening kita saat
bersujud. Hari ini, air mata yang jatuh
di Teheran adalah air mata yang sama
dengan yang mengalir di Gaza, di sana,
di tempat suci Palestina yang sedang
merintih.”
“Darah para syuhada bukanlah
akhir dari sebuah perjuangan
melainkan tinta yang menuliskan
babak baru kemerdekaan. Mereka
boleh meruntuhkan bangunan kita,
mereka boleh memadamkan pelita
di rumah-rumah kita, namun mereka
tidak akan pernah bisa memadamkan
api iman yang menyala di dada setiap
mukmin!”
“Aku tidak meminta kalian untuk
mengangkat senjata jika tanganmu
terikat. Namun, aku meminta satu
hal yang tidak bisa dirampas oleh Jet
Tempur manapun: Doa ! Angkatlah
tangan kalian di setiap sujud terakhir.
Vintalah kepada Pemilik Semesta agar
kegelapan ini segera sirna. Biarlah
langit berguncang oleh jutaan zikir yang
memohon kemenangan bagi mereka
yang tertindas.”
“Kemenangan Iran adalah kemenangan
bagi martabat Islam. Dan kemerdekaan
Palestina adalah janji suci yang akan
segera kita saksikan bersama. Biarkan
sejarah mencatat bahwa hari ini,
kita berhenti menjadi pecahan yang
terpisah, dan mulai menjadi satu tubuh
yang tak tergoyahkan!”
Mojtaba

