Talamus.id – Pemupukan sangat dibutuhkan jika petani ingin kelapa sawitnya mendapatkan hasil tandan buah segar (TBS) yang maksimal dan jumlah panen menjadi lebih banyak.
Tapi, para petani harus pintar memilih pupuk. Sebab, bisa saja harapan untuk mendapatkan hasil panen yang lebih banyak, tidak terwujud.
Seperti yang dialami oleh Hasbi (Rohmatul), salah seorang petani sawit di Kecamatan Tapung, Dia telah membuktikan dua jenis pupuk untuk buah. Pertama pupuk buah subsidi, yang kedua pupuk buah non subsidi.
Rohmatul menjelaskan bahwa hasil percobaannya, maka dia menyimpulkan bahwa pupuk non subsidi memiliki kualitas yang bagus jika dibandingkan dengan pupuk bersubsidi. Hal itu dilihatnya dari jumlah panen TSB di lahannya yang seluas 3 hektare.
”Kita pakai pupuk KCL. Yang satu KCL subsidi, yang satu lagi KCL non subsidi. Kalau pakai yang subsidi, hasil panen kami tidak mencapai 600 kg sekali panen. Tapi kalau yang non subsidi, hasil panen kita mencapai 600 kg lebih,” katanya.
Oleh sebab itu, Rohmatul lebih memilih menggunakan pupuk non subsidi, walaupun harganya lebih mahal. Karena, hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal. Jika dikalkulasikan, dia menjadi lebih untung dibanding menggunakan pupuk bersubsidi.
”Memang kalau dibandingkan, harga kedua pupuk ini jauh berbeda.
Secara kualitas pupuk subsidi dan non-subsidi hampir sama namun pupuk non-subsidi lebih cepat diserap oleh tanaman. Contohnya untuk pupuk urea non-subsidi karena pupuk tidak dilapisi dengan coating oil sehingga lebih mudah larut dan lebih cepat diserap oleh tanaman.
Dijelaskannya, meski harga pupuk non subsidi jauh lebih mahal dari pada pupuk subsidi, namun dia tidak merasa rugi. Karena, pupuk digunakan hanya sekali dalam tiga bulan, kadan sekali empat bulan,” ujar Rohmatul.
“Sekali kita memberikan pupuk kepada tanaman di lahan 3 hektare, menghabiskan 300 kg. Artinya, kita perlu mengeluarkan modal sekitar Rp1,4 juta,” jelasnya.
Terkait dengan harga penjualan TBS, dia juga mengeluh dengan turunnya harga. Di mana sebulan yang lalu, dia bisa menjual hasil panennya dengan harga Rp1400/kg. Sedangkan saat ini, harga TBS hanya berkisar Rp1300/kg.
“Memang kita belum panen sekarang. Mudah-mudahan pas kita panen, dapat harga yang lebih tinggi,” jelasnya. Dia juga berharap agar harga TBS dapat stabil. Tidak naik terlalu tinggi, dan tidak turun terlalu tinggi. ***

